IndonesiaLineNews-New York-Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menekankan pentingnya aksi iklim yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.
Saat menjadi pembicara utama dalam forum Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat, Minggu (20/9), ia menyampaikan bahwa penanganan perubahan iklim tidak hanya fokus pada upaya pengurangan emisi, tetapi juga menghasilkan kota yang lebih bersih, sehat, terjangkau, dan nyaman dihuni.
“Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Pramono, dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta, Jumat (25/9).
Dalam forum tersebut, Pramono juga memaparkan tantangan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan mobilitas tinggi. Setiap hari, sekitar empat juta orang bergerak keluar-masuk Jakarta dari wilayah penyangga, terutama pada jam sibuk serta produksi sampah yang mencapai 9.000 ton per hari.
Menurutnya, masalah tersebut saling berkaitan yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat Jakarta.
“Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,” jelasnya.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengatasi masalah tersebut yakni melalui transformasi transportasi publik. Jakarta terus mengintegrasikan MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, dan kereta komuter. Saat ini, konektivitas transportasi publik Jakarta telah mencapai sekitar 93 persen.
“Kami sedang mengubah cara masyarakat bergerak melintasi Jakarta. Kami ingin menyediakan alternatif yang andal dan terjangkau selain kendaraan pribadi, sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi,” ujarnya.
Tak hanya itu, pengembangan jaringan transportasi juga terus dilakukan. Pemprov DKI Jakarta menargetkan jaringan MRT bertambah dari sekitar 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034. Sementara itu, jaringan LRT ditargetkan berkembang hingga 75 kilometer pada 2029.
Jakarta juga mulai memperkuat elektrifikasi transportasi publik. Hingga 2026, Transjakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Pramono, pembangunan transportasi publik tidak semata-mata untuk mengurangi kemacetan. Transportasi publik juga harus menjadi bagian dari solusi perubahan iklim sekaligus memperluas akses mobilitas masyarakat.
Selain transportasi, Jakarta memperkuat sistem pengelolaan sampah. Dengan produksi sekitar 9.000 ton sampah per hari, Pemprov DKI mengubah pengelolaan sampah dari skema kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah.
Sejak 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang hanya menerima sampah residu. Sementara itu, pemilahan dan pengolahan sampah didorong dilakukan sejak dari sumber.
Bersama pemerintah pusat, Jakarta juga mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WTE). Dua fasilitas tersebut diarahkan untuk mengolah sampah menjadi energi sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Pemprov DKI turut memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah dan kegiatan daur ulang.
Gubernur Pramono lebih lanjut menyampaikan, ketahanan iklim tidak hanya dibangun melalui proyek berskala besar, tetapi juga melalui perubahan cara kota mengelola mobilitas, energi, sampah, dan ruang publik.
“Kita tidak boleh melihat aksi iklim sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ukurannya sederhana: apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” kata dia.
Jakarta, lanjutnya, terus belajar dari berbagai kota besar dunia dalam memperluas ruang terbuka hijau dan meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan.
Ia menegaskan, Jakarta terbuka untuk bertukar pengalaman dan bekerja sama dengan kota-kota lain dalam mencari solusi yang sesuai dengan karakter masing-masing.
“Jakarta siap berbagi praktik baik, belajar dari kota-kota lain, dan mewujudkan tujuan iklim bersama menjadi solusi yang praktis,” kata Pramono.
Keikutsertaan Gubernur Pramono dalam forum Heat Roundtable merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja ke New York untuk menghadiri Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026. Forum ini mempertemukan para pemimpin kota dunia untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan panas perkotaan dan ketahanan iklim.
Diskusi digelar bersama C40 Cities, Harvard University’s Salata Institute for Climate and Sustainability, dan Atlantic Council’s Climate Resilience Center. Sejumlah kepala daerah turut hadir, antara lain Wali Kota Paris dan Wali Kota Freetown.






