Wagub Rano Dorong Penguatan Identitas Budaya Melalui Buku “Filosofi Orang Kampung”

IndonesiaLineNews-Jakarta-Jakarta Pusat – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen terus memperkuat identitas dan ruang kebudayaan masyarakat di tengah perkembangan Ibu Kota yang semakin modern.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno, saat menghadiri peluncuran buku “Filosofi Orang Kampung” karya sastrawan sekaligus penulis naskah Harry Tjahjono di Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/9).

“Kehadiran buku karya sahabat saya ini sangat penting karena mempertemukan kembali gagasan awal cerita Si Doel yang dirintis almarhumah Ibu Ida Farida, serta memantik kembali penghargaan sejarah terhadap karya sastrawan besar Aman Datuk Madjoindo. Mas Harry Tjahjono inilah tokoh yang berhasil memperluas ekosistem cerita dengan menghadirkan karakter ikonis seperti Mandra, Atun, Karyo, hingga Pak Bendot sehingga atmosfer perkampungan terasa nyata,” tuturnya.

Menurut Wagub Rano, cerita Si Doel tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perfilman dan sinetron Indonesia, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat dan suasana perkampungan Jakarta pada masanya. Dialog serta karakter yang hadir dalam cerita tersebut menjadi bagian dari ingatan masyarakat hingga saat ini.

“Ucapan agar Si Doel menjadi gubernur itu sejatinya sudah dilontarkan mendiang Benyamin Sueb sejak film Si Rano karya Motinggo Busye pada 1973, yang kemudian mengalir alami ke dalam sinetron tanpa naskah formal. Takdir tersebut ternyata terwujud dalam perjalanan karier pengabdian saya di birokrasi, hingga kini diberi amanah memimpin di Balai Kota DKI Jakarta,” terangnya.

Wagub Rano menilai, kehadiran buku “Filosofi Orang Kampung” menjadi penting karena dapat mendokumentasikan nilai-nilai kehidupan masyarakat yang semakin jarang ditemukan di tengah perubahan Jakarta. Interaksi antartetangga, suasana lingkungan, dialek lokal, hingga kebiasaan masyarakat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

“Tontonan layar kaca saat ini kerap kehilangan keaslian nuansa kampung; banyak adegan menampilkan keseharian yang janggal dan terasing dari realitas warga kita yang bersahaja. Oleh sebab itu, kami mendorong Mas Harry agar terus berkarya menyusun ensiklopedia dan seri lanjutan, agar nilai-nilai luhur perkampungan tetap terdokumentasi rapi bagi generasi penerus,” urai Wagub Rano.

Pemprov DKI Jakarta mendukung berbagai kegiatan literasi dan pelestarian budaya yang dilakukan para pelaku seni dan masyarakat. Dokumentasi mengenai sejarah dan kehidupan kampung dinilai dapat memperkuat pengetahuan masyarakat tentang perjalanan budaya Jakarta sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga identitas kota di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global.

“Kami berharap forum ini memberikan kemaslahatan nyata, dan mari bersama-sama kita hidupkan kembali kearifan kampung melalui perspektif yang lebih berkemajuan,” pungkasnya.

Sementara itu, Harry Tjahjono mengatakan, buku tersebut lahir dari kegelisahannya terhadap keberadaan masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta. Kendati menghadapi keterbatasan fisik pascaserangan strok, ia tetap produktif berkarya dengan menuntaskan dua buku baru dan merencanakan pembaruan aransemen 30 karya musik tempo dulu.

“Karya ini lahir dari kekhawatiran kultural puluhan tahun silam agar masyarakat Betawi tidak terasing di tanah kelahirannya sendiri. Sehingga, kondisi kesehatan ini justru memberi motivasi dalam menghasilkan ragam novel, puisi, novelet, hingga puluhan lagu bertema Betawi. Lagu-lagu tersebut rencananya akan diproduksi ulang pada bulan Januari mendatang,” jelasnya.