{"id":830,"date":"2020-12-02T11:38:35","date_gmt":"2020-12-02T11:38:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=830"},"modified":"2020-12-02T11:38:35","modified_gmt":"2020-12-02T11:38:35","slug":"asa-krueng-woyla-menyesalkan-sikap-dprk-aceh-barat-rdp-dengan-pt-magellanic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=830","title":{"rendered":"ASA Krueng Woyla Menyesalkan Sikap DPRK Aceh Barat RDP Dengan PT Magellanic"},"content":{"rendered":"<blockquote><p><strong>Indonesialinenews.com-Aceh Barat-<\/strong>Sikap DPRK Aceh Barat dipertanyakan, Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan oleh DPRK Aceh Barat dan PT. Magellanic perihal perbaikan manajemen dan limbah menuai protes dari mahasiswa.<\/p><\/blockquote>\n<p>Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Krueng Woyla (ASA Krueng Woyla) menilai, keputusan DPRK dalam hal itu semakin membuat masyarakat bingung tentang penanganan dan pengambilan keputusan.<\/p>\n<p>&#8220;Kami selaku mahasiswa dan masyarakat, jelas bahwa kami yang tahu persis bagaimana keadaan dilapangan, maka dalam hal ini kami sangat menyesali RDP yang dilakukan secara sepihak.&#8221; kata Ketua ASA Krueng Woyla, Farhani, Rabu (02\/12\/2020).<\/p>\n<p>Secara faktual tidak bisa dijadikan alasan, karena permasalahan ini juga sudah masuk dalam kategori urgent. Sedangkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) tidak satupun unsur mahasiswa atau perwakilan masyarakat yang hadir.<\/p>\n<p>&#8220;Seharusnya DPRK dari woyla ada inisiatif, tapi sayangnya tidak ada, malah DPRK dari woyla merupakan ketua komisi 2 yang membidangi mengenai penambangan, tapi seolah-olah suara mahasiswa tidak dihargai oleh mereka.&#8221; ujarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesialinenews.com-Aceh Barat-Sikap DPRK Aceh Barat dipertanyakan, Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dilakukan oleh DPRK Aceh Barat dan PT. Magellanic perihal perbaikan manajemen dan limbah menuai<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[],"class_list":["post-830","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-nasional"],"views":312,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/830","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=830"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/830\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":833,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/830\/revisions\/833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=830"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=830"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=830"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}