{"id":7024,"date":"2023-02-02T13:47:12","date_gmt":"2023-02-02T13:47:12","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=7024"},"modified":"2023-02-02T13:47:12","modified_gmt":"2023-02-02T13:47:12","slug":"jumlah-ikan-yang-mati-di-waduk-plta-koto-panjang-kampar-jadi-150-ton-nilai-kerugian-diperkirakan-rp42-m","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=7024","title":{"rendered":"Jumlah Ikan yang Mati di Waduk PLTA Koto Panjang Kampar Jadi 150 Ton, Nilai Kerugian Diperkirakan Rp4,2 M"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><strong>IndonesiaLineNews-Pekanbaru<\/strong>&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Riau mendapat laporan ratusan ikan kerambah jaring apung di waduk PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Petambak ikan mas di PLTA Koto Panjang Kampar, Riau harus merugi. Kondisi ini lantaran ribuan ikan siap panen mati mendadak akibat terserang penyakit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Iya, kita sudah mendapat laporan dari Pj Bupati Kampar terkait adanya ikan mati di waduk PLTA Koto Panjang, Kampar,&#8221; kata Kepala DKP Provinsi Riau, Herman Mahmud, Kamis (2\/2\/2023).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Berdasarkan laporan yang pihaknya terima, lanjut Herman, kerugian kerambah jaring apung di waduk PLTA Koto Panjang, Kampar diperkirakan mencapai Rp4,2 miliar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Karena kematian ikan lebih kurang 15 ton perhari. Sementara kematian ikan sudah berlangsung selama 10 hari. Jadi hampir 70 persen kerambah jaring apung terdampak kematian. Kalau 1 Kg ikan mas harganya Rp28.000 per Kg. Kemudian satu hari 15 ton dikalikan selama 10 hari berarti 150 ton. Maka kerugian diperkirakan mencapai Rp4,2 miliar,&#8221; terangnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Dengan kejadian itu, sebut Herman, pihaknya telah menurunkan tim untuk mengambil sampel kematian ratusan ton ikan di kerambah jaring apung waduk PLTA Koto Panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Sampel sudah kita periksa di Labor Balai Karantina, kemungkinan hasilnya besok sudah diketahui penyebab kematian ikan di kerambah jaring apung waduk PLTA Koto Panjang,&#8221; ujarnya\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Namun, pihaknya menduga, kematian ratusan ton ikan itu disebabkan padat tebar ikan terlalu tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Itu asumsi awal kita diduga karena itu. Kemudian karena banyaknya pakan-pakan di bawah yang menjadi amoniak,&#8221; pungkasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Sebelumnya, Penjabat (Pj) Bupati Kampar, Kamsol menyebut hasil pemeriksaan labor ikan-ikan milik petambak diduga kuat mati akibat penyakit aeromonas. Di mana ikan mati dengan kondisi mudah terluka hingga pecah-pecah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Kena penyakit aeromonas. Itu semua di media keramba jaring apung PLTA, tetapi hanya ikan mas saja,&#8221; kata mantan Kadis Pendidikan Riau tersebut.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Pekanbaru&#8211; Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Riau mendapat laporan ratusan ikan kerambah jaring apung di waduk PLTA Koto Panjang Kabupaten<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7025,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[29,41,57,51],"tags":[],"class_list":["post-7024","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","category-nasional","category-pekanbaru","category-peristiwa"],"views":181,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7024","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7024"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7024\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7026,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7024\/revisions\/7026"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7025"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7024"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7024"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7024"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}