{"id":4327,"date":"2022-02-03T05:32:22","date_gmt":"2022-02-03T05:32:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=4327"},"modified":"2022-02-03T05:37:27","modified_gmt":"2022-02-03T05:37:27","slug":"kesimpulan-zoom-seminar-invest-ttg-bubarnya-pln-bag-i-eksisnya-pln-karena-ideologi-keuangan-nomor-dua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=4327","title":{"rendered":"KESIMPULAN ZOOM SEMINAR INVEST TENTANG BUBARNYA PLN.  (BAG. I) &#8220;EKSISNYA PLN KARENA IDEOLOGI, KEUANGAN NOMOR DUA&#8221; !"},"content":{"rendered":"<p>Oleh Ahmad Daryoko<\/p>\n<p>Koordinator INVEST.<\/p>\n<p>Untuk melakukan &#8220;Muhasabah&#8221; keberadaan PLN selama 76 tahun lebih, perlu kiranya kita mengingat situasi kelahirannya yang dalam kondisi &#8220;melarat&#8221; tetapi penuh semangat perjuangan, keinginan untuk mandiri dan berdaulat dan tidak mau bergantung ke Penjajah ! penuh gelora Ideologi Etatisme (Nasionalis)\/Ta&#8217;jul Furudz (Islam). Sehingga lahirlah Jawatan Gas dan Listrik Negara ! Yang merupakan Perusahaan Infrastruktur Negara dibidang kelistrikan guna cita-cita Kemerdekaan yaitu menuju masyarakat modern, maju, mandiri !<\/p>\n<p>Mengapa dipilih strategi\u00a0 Infrastruktur yang &#8220;Benifit Oriented&#8221;? Bukan PT. PLN (Persero) yang &#8220;Profit Oriented&#8221; ?<\/p>\n<p>Ternyata semua tergantung dari Ideologi para pendirinya !<\/p>\n<p>Kalau para Founding Fathers saat itu &#8220;mind set&#8221; Ideologinya Liberal seperti JK, Dahlan Iskan, Luhut BP, Erick Tohir dll, maka otomatis mereka tidak akan menasionalisasi NV Ogem, Gebeo, Ebalom, NIGMN dll menjadi PLN, tetapi lebih memilih menjadikan Perusahaan-perusahaan Belanda tersebut dijadikan IPP Listrik Swasta, sekaligus bisa nitip saham !<\/p>\n<p>Alasan bisa dibikin, bahwa tidak punya uang, serba kekurangan dan seribu satu macam alasan yang pada dasarnya menunjukkan karakter &#8220;pragmatisme&#8221;, inlander, jiwa budak, atau minimal mental &#8220;brocker&#8221; !<\/p>\n<p>Lebih jauh lagi kalau Founding Fathers nya seperti itu, mereka tidak akan memproklamirkan Kemerdekaan . Mereka berpikir tidak perlu merdeka, yang penting bisa bisnis dengan penjajah dan rakyat cukup dianggap konsumen !<\/p>\n<p>KESIMPULAN :<\/p>\n<p>Keberadaan PLN didorong oleh semangat Kemerdekaan, keinginan untuk berdaulat dan mandiri guna mewujudkan sebagai Negara Industri yg sesungguhnya (&#8220;genuine&#8221;) , bukan Negara Industri seolah olah padahal hanya &#8220;brocker&#8221; atau paling banter industri &#8220;rakitan&#8221; !<\/p>\n<p>Untuk itu memang sudah benar PLN dikelola\u00a0 secara Infrastruktur sbg terjemahan dari Hadhist &#8220;Almuslimuuna shuroka&#8217;u fii shalasin fil ma&#8217;i wal kala&#8217;i wan nar\u00a0 wa shamanuhu haram&#8221; atau untuk memenuhi pasal 33 ayat (2) UUD 1945, &#8221; Cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai Negara&#8221;. Sehingga komoditas listrik dianggap sebagai &#8220;Public good&#8221; yang harus dikuasai Kholifah\/Negara demi kesejahteraan rakyat. Dan bukan sebagai komoditas &#8220;Commercial Good&#8221; yang dikuasai para Konglomerat\/Oligarkhi\/Pedagang yang hanya untuk kepentingan pribadi dan melanggengkan kekuasaan !<\/p>\n<p>Untuk itu diperlukan Pemimpin dengan Visi\/Ideologi Etatisme (sebagai ruh Panca Sila) atau Ta&#8217;jul Furudz (inti Ideologi Islam). Bukan Pemimpin penganut Ideologi &#8220;Pragmatis&#8221; lebih-lebih mental pedagang yang orientasinya hanya hitung-hitungan untung\/rugi buat kepentingan pribadi dan Oligarkhi nya !<\/p>\n<p>Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuunn !!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>JAKARTA, 3 FEBRUARI 2022<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ahmad Daryoko Koordinator INVEST. Untuk melakukan &#8220;Muhasabah&#8221; keberadaan PLN selama 76 tahun lebih, perlu kiranya kita mengingat situasi kelahirannya yang dalam kondisi &#8220;melarat&#8221; tetapi<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4328,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,41,44],"tags":[],"class_list":["post-4327","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","category-nasional","category-sosial"],"views":625,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4327","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4327"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4327\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4330,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4327\/revisions\/4330"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4328"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4327"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4327"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4327"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}