{"id":3323,"date":"2021-10-30T06:31:41","date_gmt":"2021-10-30T06:31:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=3323"},"modified":"2021-10-30T06:34:54","modified_gmt":"2021-10-30T06:34:54","slug":"selamatkan-aset-sejarah-pemprov-dki-evakuasi-batu-penggilingan-abad-ke-18","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=3323","title":{"rendered":"SELAMATKAN ASET SEJARAH, PEMPROV DKI EVAKUASI BATU PENGGILINGAN ABAD KE-18"},"content":{"rendered":"<p><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Jakarta Timur\u00a0 &#8211; \u00a0Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan evakuasi penyelamatan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) batu penggilingan abad ke-18 bersama Pusat Konservasi Cagar Budaya dan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana, mengatakan, ODCB batu penggilingan yang diperkirakan berusia ratusan tahun tersebut ditemukan di trotoar Jalan TB. Simatupang, Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, lalu dievakuasi ke Balai Budaya Condet agar pengawasannya lebih optimal.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-3325\" src=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127-300x135.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"135\" srcset=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127-300x135.jpeg 300w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127-768x346.jpeg 768w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/2selam20211030113127.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini merupakan upaya pelindungan dan penyelamatan agar objek lebih terlindungi, karena selama ini berada di trotoar jalan yang rentan rusak, baik karena cuaca atau tindakan vandalisme,&#8221; ujar Iwan, Sabtu (30\/10).<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-3326\" src=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127-300x135.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"135\" srcset=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127-300x135.jpeg 300w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127-768x346.jpeg 768w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/3selam20211030113127.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih lanjut, Iwan mengatakan, selain ditemukan di Jalan TB. Simatupang, ODCB batu penggilingan juga ditemukan di Kelurahan Gedong, Kecamatan Pasar Rebo, dan Kelurahan Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Di wilayah Kelurahan Penggilingan, Iwan menyebut terdapat lima batu penggilingan ditemukan. Selanjutnya, batu penggilingan akan dikonservasi melalui pembersihan dan dilakukan beberapa perbaikan bagian objek yang mengalami kerusakan.\u00a0<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-3327\" src=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127-300x135.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"135\" srcset=\"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127-300x135.jpeg 300w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127-1024x461.jpeg 1024w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127-768x346.jpeg 768w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127-1536x691.jpeg 1536w, https:\/\/www.indonesialinenews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/1selam20211030113127.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Iwan menambahkan, pihaknya akan memberikan narasi yang berisi keterangan terkait sejarah batu penggilingan. Sehingga, masyarakat yang datang ke Balai Budaya Condet dapat mengetahui sejarah dan cerita dari batu tersebut. Selain diletakkan di Balai Budaya Condet, saat ini salah satu batu penggilingan lainnya juga berada di Museum Sejarah Jakarta.<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><!--nextpage--><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diketahui, batu penggilingan merupakan alat pengolah tebu yang diperkirakan digunakan pada abad ke-17-18 Masehi. Dalam tulisan Haan (1935: 323-324), terdapat istilah suikermolen yang berarti pabrik pembuatan gula. Pada abad ke-18, istilah pabrik pembuatan gula ini merujuk pada pabrik gula dengan peralatan tradisional sederhana yang menggunakan batu untuk menggiling tebu.\u00a0<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa itu, gula menjadi salah satu komoditas penting untuk perdagangan di dunia. Batavia adalah salah satu daerah penghasil gula, di mana hasilnya diekspor ke Cina dan Jepang. Produksi gula di Batavia dilakukan oleh orang-orang Cina yang bermukim di wilayah Pecinan.\u00a0 Menyadari produksi gula memberikan keuntungan, VOC akhirnya membuat ketetapan bahwa gula di Batavia wajib dijual kepada VOC, tidak boleh diperjualbelikan kepada pihak lain. Bahkan, VOC yang menentukan harga gula.<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 1710 adalah puncak kejayaan produksi gula di Batavia, di mana terdapat 130 pabrik pembuat gula yang dimiliki oleh orang Cina, dengan sebagian besar berada di sekitar Sungai Ciliwung.\u00a0 Namun, setelahnya, produksi gula mengalami penurunan yang ditandai dengan berkurangnya pabrik gula. Pada tahun 1738, terdapat 80 pabrik gula. Kemudian, di tahun 1750, terdapat 66 pabrik gula. Lalu, pada tahun 1786, hanya terdapat 44 pabrik gula.\u00a0<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Batu penggilingan biasa disebut warga setempat sebagai batu kiser.\u00a0 Setelah menurunnya produksi tebu di Batavia dan keluarnya orang-orang Cina dari Batavia pada tahun 1740, mereka mulai mendirikan bentengan-bentengan dengan pagar tinggi yang selanjutnya disebut Cina Benteng. Salah satunya, mulai membuat pabrik penggilangan tebu untuk dijadikan gula pasir di wilayah Cakung.\u00a0<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Asal usul nama Kampung Penggilingan juga berasal dari batu penggilingan tersebut. Dahulunya, nama kampung ini adalah Kampung Cakung yang terkenal dengan sebutan Kampung Gula.\u00a0<\/span><br style=\"font-weight: 400;\" \/><br style=\"font-weight: 400;\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami sangat berterima kasih atas bantuan dan kerja sama Sudin Bina Marga Jakarta Timur, Sudin Penanggulangan Kebakaran Jakarta Timur, Kelurahan Gedong, dan pihak-pihak terkait, sehingga proses evakuasi dapat berjalan lancar,&#8221; pungkasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Edwin Asmara<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta Timur\u00a0 &#8211; \u00a0Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melakukan evakuasi penyelamatan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) batu penggilingan abad ke-18 bersama<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3324,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[45,41,48,40],"tags":[],"class_list":["post-3323","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-jakarta","category-nasional","category-pemerintahan","category-seni-budaya"],"views":508,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3323","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3323"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3323\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3328,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3323\/revisions\/3328"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3324"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3323"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3323"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3323"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}