{"id":27537,"date":"2026-08-21T09:11:24","date_gmt":"2026-08-21T09:11:24","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=27537"},"modified":"2026-08-21T09:11:24","modified_gmt":"2026-08-21T09:11:24","slug":"pemerintah-perkuat-modifikasi-cuaca-untuk-atasi-karhutla-di-kalimantan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=27537","title":{"rendered":"Pemerintah perkuat modifikasi cuaca untuk atasi karhutla di Kalimantan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Jakarta &#8211; Pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cPelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian\/lembaga dan pemerintah daerah,\u201d kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi, dikutip dari keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) yang diterima di Jakarta, Jumat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Diketahui, OMC merupakan bagian dari strategi terpadu pengendalian karhutla untuk membantu meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah rawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Di Kalimantan Barat, OMC dilaksanakan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut dilakukan sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Berdasarkan prakiraan cuaca terkini, peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23-27 Agustus 2026. BMKG saat ini pun tengah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk mengupayakan pelaksanaan kembali OMC di Kalimantan Barat pada periode tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Berikutnya di Kalimantan Tengah, OMC telah dilaksanakan dalam dua periode, yakni 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026. Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cNamun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,\u201d kata Ristianto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Oleh karena itu, peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat sangat minim. Pemantauan atmosfer pun tetap dilakukan untuk mengidentifikasi apabila muncul peluang penyemaian awan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Kemudian untuk Kalimantan Selatan, perkembangan cuaca,\u00a0<em>hotspot<\/em>, dan kondisi karhutla terus dipantau secara intensif. Peluang pelaksanaan OMC akan dinilai berdasarkan ketersediaan awan potensial dan kebutuhan penanganan di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cMengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,\u201d kata dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Di ketiga provinsi tersebut, OMC bukan satu-satunya instrumen pengendalian karhutla. Pemerintah tetap memprioritaskan pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan lokasi, penguatan personel dan sarana, serta pencegahan agar kebakaran tidak meluas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cEvaluasi kondisi cuaca dan operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi,\u201d kata Ristianto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Pemerintah juga menambah armada udara untuk menangani karhutla. Diketahui, operasi udara mendukung satuan tugas darat, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit atau tidak dapat diakses melalui jalur darat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga telah berkoordinasi langsung dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi\u00a0<em>water bombing<\/em>\u00a0di Kalimantan Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cPenambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara. Namun, pengerahan armada tetap harus mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan,\u201d kata Ristianto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Pekatnya asap dalam dua hari terakhir menjadi tantangan bagi operasi udara, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau. Asap yang terlalu pekat membatasi pandangan pilot terhadap sasaran dan jalur penerbangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Meskipun begitu, keterbatasan operasi udara tidak berarti penanganan berhenti. Ketika pertumbuhan awan belum mendukung OMC atau jarak pandang belum aman untuk\u00a0<em>water bombing<\/em>, satuan tugas darat tetap melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan lokasi rawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cStrategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,\u201d ujar Ristianto.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta &#8211; Pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. \u201cPelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":27538,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,45,73,119,53,48],"tags":[],"class_list":["post-27537","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-jakarta","category-komunikasi","category-lingkungan","category-pembangunan","category-pemerintahan"],"views":25,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27537","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27537"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27537\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27539,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27537\/revisions\/27539"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/27538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27537"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27537"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27537"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}