{"id":25288,"date":"2026-03-06T10:13:00","date_gmt":"2026-03-06T10:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=25288"},"modified":"2026-03-06T10:13:00","modified_gmt":"2026-03-06T10:13:00","slug":"lestarikan-makanan-khas-betawi-pramono-tinjau-produksi-dodol-di-jagakarsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=25288","title":{"rendered":"Lestarikan Makanan Khas Betawi, Pramono Tinjau Produksi Dodol di Jagakarsa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Jakarta-Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengunjungi pusat produksi Dodol Betawi Nyak Mai di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6\/3).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Sebagai bentuk dukungan melestarikan makanan khas Betawi, Pramono mengaku akan menjadikan dodol Betawi sebagai hidangan dalam acara-acara di Balai Kota Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Dalam kunjungannya, Gubernur didampingi Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Setibanya di lokasi, Pramono tidak hanya meninjau, tetapi juga ikut mencoba langsung proses mengaduk dodol di sebuah wajan besar. Ia menyebut, dodol Betawi memiliki filosofi tersendiri yakni menonjolkan sifat gotong royong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Barusan saya diundang dan sekaligus mengaduk dodol dan rupanya tidak ringan. Tapi saya terkesan sekali karena ini, dodol ini kan bagi warga Betawi sebenarnya bagian dari konsep gotong royong,&#8221; ujar Pramono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Proses pembuatan dodol membutuhkan waktu 8 hingga 10 jam. Pramono pun mengaku sebelumnya pernah mencicipi dodol Betawi Nyak Mai ini yang disebutnya memiliki rasa yang nikmat dengan tekstur yang kenyal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Pemilik dodol Nyak Mai saat ini merupakan generasi kedua. Gubernur berpesan agar kualitas Dodol Nyak Mai yang memiliki kekhasan tersendiri itu harus dipertahankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Harapannya adalah dilakukan modernisasi tapi tidak menghilangkan tradisional yang ada di tempat ini,&#8221; kata Pramono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Gubernur pun menyanggupi untuk memfasilitasi modernisasi alat pengolahan dodol Betawi tersebut. Ia berharap, warisan kuliner tradisional Betawi ini terus terjaga kualitasnya dan semakin menarik kemasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Saya merasa bahwa inilah kuliner tradisional yang harusnya kita perbaiki, kita lakukan\u00a0<em>packaging<\/em>\u00a0yang lebih menarik sehingga bisa siapapun orang yang berkunjung di Jakarta kemudian mereka mencoba dodol Nyak Mai ini,&#8221; jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Kunjungan Gubernur ke Jagakarsa ini merupakan upaya pemerintah dalam memberdayakan UMKM berbasis kearifan lokal. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024, Pramono menegaskan bahwa budaya Betawi kini menjadi fondasi budaya utama di Jakarta.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta-Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengunjungi pusat produksi Dodol Betawi Nyak Mai di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6\/3). Sebagai bentuk dukungan melestarikan makanan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25289,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,45,73,53,48,40],"tags":[],"class_list":["post-25288","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-jakarta","category-komunikasi","category-pembangunan","category-pemerintahan","category-seni-budaya"],"views":46,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25288","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=25288"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25288\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25290,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25288\/revisions\/25290"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/25289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=25288"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=25288"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=25288"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}