{"id":25111,"date":"2026-02-22T15:19:32","date_gmt":"2026-02-22T15:19:32","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=25111"},"modified":"2026-02-22T15:19:32","modified_gmt":"2026-02-22T15:19:32","slug":"imlek-2577-kongzili-matakin-gaungkan-pesan-keadilan-dan-kepedulian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=25111","title":{"rendered":"Imlek 2577 Kongzili, Matakin Gaungkan Pesan Keadilan dan Kepedulian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Jakarta-Perayaan Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat nasional digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Minggu (22\/2).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Mengusung tema \u2018Bila Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan\u2019, perayaan ini dihadiri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua Dewan Kehormatan Matakin Jimly Asshiddiqie, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa Teddy Sugianto, serta para tokoh agama dan pimpinan lembaga negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Budi Santoso Tanuwibowo mengatakan, Imlek memiliki makna yang mendalam dan multi-dimensi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ia menegaskan, Imlek bukan sekadar perayaan budaya, melainkan bagian dari identitas bangsa. Tahun ini, umat Khonghucu memasuki tahun 2577 Kongzili, yang menjadi salah satu dari lima sistem penanggalan yang hidup di Indonesia, berdampingan dengan Masehi, Hijriah, Saka, dan Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cMomentum ini menjadi ajakan untuk meninggalkan hal-hal buruk dan memulai lembaran baru dengan pikiran jernih,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Mengangkat tema keadilan, Budi menekankan bahwa keadilan adalah fondasi utama dalam kehidupan berbangsa. Ia menyinggung bahwa kata adil termaktub dua kali dalam Pancasila, yakni pada sila kedua dan kelima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Menurutnya, apabila keadilan ditegakkan, maka persoalan kemiskinan, perpecahan, hingga ketimpangan sosial dapat diminimalisasi dan digantikan oleh keharmonisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cDan mustahil keadilan hanya dibebankan kepada pemerintah tanpa partisipasi aktif masyarakat,\u201d ucapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ia menambahkan, makna Imlek lainnya adalah penguatan bakti kepada Tuhan dan orang tua, serta kepedulian sosial. Dalam rangkaian perayaan Imlek tahun ini, Matakin telah menggelar bakti sosial dan mengajak para undangan untuk berkontribusi membantu korban bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Penyaluran bantuan direncanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Dia menambahkan, semangat gotong royong dan solidaritas sosial menjadi kunci agar Indonesia tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cSaya berharap nilai-nilai keadilan, bakti, dan kepedulian yang terkandung dalam Imlek dapat terus menjadi energi moral bagi bangsa menuju masa depan yang lebih harmonis dan sejahtera,\u201d tandasnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta-Perayaan Hari Raya Keagamaan Khonghucu Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili tingkat nasional digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Minggu (22\/2). Mengusung tema \u2018Bila Ada Keadilan,<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":25112,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,45,73,48,43],"tags":[],"class_list":["post-25111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-jakarta","category-komunikasi","category-pemerintahan","category-religi"],"views":40,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=25111"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25111\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25113,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/25111\/revisions\/25113"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/25112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=25111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=25111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=25111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}