{"id":20373,"date":"2025-05-13T09:04:09","date_gmt":"2025-05-13T09:04:09","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=20373"},"modified":"2025-05-13T09:04:09","modified_gmt":"2025-05-13T09:04:09","slug":"sanggar-tari-dari-mampang-prapatan-torehkan-prestasi-di-korea-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=20373","title":{"rendered":"Sanggar Tari dari Mampang Prapatan Torehkan Prestasi di Korea Selatan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Jakarta-Sanggar Tari Svadara Warna Indonesia di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional dengan meraih Bronze Award dalam Powerful Daegu Festival 2025 yang berlangsung pada 9-12 Mei di Kota Daegu, Korea Selatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Rusmantoro mengapresiasi delegasi dari Sanggar Tari Svadara Warna Indonesia yang sudah berlatih dan bekerja keras berjuang membawa serta memperkenalkan seni budaya Indonesia kepada khalayak luas di mancanegara.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Saya ucapkan terima kasih atas dukungan yang juga datang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul, yang turut membantu kelancaran keikutsertaan Indonesia di ajang ini, serta memberikan apresiasi atas upaya promosi budaya\u00a0yang dilakukan oleh para peserta,&#8221; ujarnya, Senin (12\/5).<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ketua rombongan Sanggar Tari Svadara Warna Indonesia, Alfrida mengatakan, sebagai sanggar binaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Svadara menampilkan karya berjudul &#8220;Pertunjukan Reyog Ponorogo Sasmita Selaras&#8221; yang memadukan elemen Jathilan, Bujang Ganong, Warok, dan Reyog.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Tarian ini merupakan bagian dari kesenian Reyog Ponorogo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO,&#8221; terangnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Alfrida menjelaskan, dalam pementasan tersebut, Sanggar Svadara bekerja sama dengan Sanggar Sardulo Aji Manggolo dari Jakarta Selatan di bawah pimpinan Aji Pangestu yang turut menghadirkan pelatih koreografi dan pembarong profesional.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Kolaborasi ini menghasilkan pertunjukan yang memukau dewan juri dan ribuan penonton dari berbagai negara,&#8221; terangnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Menurutnya, festival tari tahunan ini menjadi salah satu ajang bergengsi di Korea Selatan dengan kategori internasional yang tahun ini diikuti oleh 17 grup dari 11 negara, termasuk Taiwan, Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura, Hong Kong, China, Uzbekistan, Bulgaria, dan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Prestasi ini menjadi penghargaan kedua setelah pencapaian serupa di tahun 2022,&#8221; ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Dalam kompetisi ini, imbuh Alfrida, tiap peserta diwajibkan menampilkan dua format durasi, 10 menit, dan empat menit. Pada hari pertama, peserta tampil dua kali dengan durasi 10 menit. Kemudian, pada hari kedua Svadara tampil sebanyak empat kali, satu kali berdurasi 10 menit dan tiga kali empat menit.<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Melalui manajemen stamina yang menjadi tantangan utama, penari harus tampil maksimal dalam cuaca musim semi yang unik, matahari bersinar terik, tetapi suhu udara tetap rendah, berkisar antara 12 derajat celcius hingga 19 derajat celcius pada 10-11 Mei.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Adaptasi fisik dan pengaturan energi menjadi kunci utama kelancaran penampilan di atas panggung,&#8221; imbuhnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Alfrida mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diterima selama di Korea Selatan. Selain dukungan Dinas Kebudayaan DKI, pihaknya juga didukung Paguyuban Bumi Reyog di Daegu yang telah meminjamkan properti Dadak Merak, menyambut hangat seperti keluarga, dan menyebarkan informasi kepada WNI yang bekerja di Daegu untuk datang menyemangati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Suasana kekeluargaan itu sangat kami. rasakan. Kami benar-benar merasa punya banyak suporter,&#8221; ucapnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Sementara itu, Ketua Paguyuban Bumi Reyog Daegu, Imam Choirul menuturkan, delegasi Svadara datang membawa semangat luar biasa, sehingga pihaknya merasa terpanggil untuk membantu karena ini juga bagian dari misi budaya di perantauan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"text-justify\"><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Prestasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, konsistensi, dan semangat pelestarian budaya mampu membawa seni tradisional Indonesia dikenal di tingkat global,&#8221; tandasnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta-Sanggar Tari Svadara Warna Indonesia di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional dengan meraih Bronze Award dalam Powerful Daegu<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":20374,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,39,45,40],"tags":[],"class_list":["post-20373","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-internasional","category-jakarta","category-seni-budaya"],"views":61,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20373","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=20373"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20373\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":20375,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/20373\/revisions\/20375"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/20374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=20373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=20373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=20373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}