{"id":17334,"date":"2024-09-24T08:09:22","date_gmt":"2024-09-24T08:09:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=17334"},"modified":"2024-09-24T08:09:22","modified_gmt":"2024-09-24T08:09:22","slug":"activisme-dan-komunitas-muslim-di-us","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=17334","title":{"rendered":"Activisme dan Komunitas Muslim di US"},"content":{"rendered":"<p>Imam Shamsi Ali Al-Kajangi*<\/p>\n<p>Hari Ahad, 22 September kemarin, saya kembali mendapat Kehormatan menjadi pembicara di acara Konvensi Tahunan NABIC (North American-Bangladeshi Islamic Community) di New York. Acara ini mengambil tempat di St. John University salah satu universitas Katolik yang terletak tidak jauh dari Masjid kami, Jamaica Muslim Center. Hadir sebagai pembicara utama (Keynote) adalah Sr. Dalia Mugahed, Direktur Istitute for Social Policy and Understanding. Juga Prof. Mohamed Ataul Karim, Vice President Universitas Massachusetts.<\/p>\n<p>NABIC adalah salah satu organisasi besar komunitas immigran asal Bangladesh dengan tujuan utama membantu membangun negara asal. Organisasi ini sekarang telah membangun beberapa rumah sakit dan klinik gratis, mengembangkan universitas, menciptakan lapangan kerja khusus bagi kaum perempuan, dan banyak lagi. NABIC juga sangat efektif dalam membantu warga Bangladesh di saat terjadi bencana alam seperti banjir besar baru-baru ini.<\/p>\n<p>Yang paling Istimewa dari NABIC adalah bahwa organisasi kemanusiaan ini diinisiasi oleh mayoritasnya para profesional, khususnya guru-guru besar keturunan Bangladesh di Amerika. Prof. Mohammad Ataul Karim sendiri sebelum terpilih jadi Wakil Presiden Universitas adalah dekan Fakultas Teknik di NY University. Beliau adalah teman almarhum Prof. Habibie sejak dahulu. Pertemanan dengan pak Habibie ini yang menjadikan beliau merasa dekat dengan saya sebagai warga Indonesia. Bahkan dalam beberapa kesempatan memberikan saya gelar \u201can honorary Bangladeshi\u201d.<\/p>\n<p>Walaupun NABIC bukan organisasi politik dan berusaha untuk tidak mengaitkan diri dengan politik, konvensi tahunan mereka kali ini sarat dengan nuansa politik. Maklum baru saja terjadi revolusi di negara asal mereka yang berhasil menumbangkan rezim diktator Perdana Menteri Hasinah. Mayoritas warga Bangladesh di Amerika menentang pemerintahan Hasinah lalu.<\/p>\n<p>Mungkin ini pula yang mendasari sehingga tema Konvensi NABIC kali ini adalah \u201cActivism and Community Empowerment\u201d. Dan saya sendiri diminta secara khusus membahas pandangan Islam tentang Aktifisme dan Penguatan Komunitas. Sebuah tema yang memang selalu menjadi obyek pembahasan saya dalam beberapa waktu terakhir.<\/p>\n<p>Activism and Community Empowerment<\/p>\n<p>Aktifisme dan penguatan Komunitas sesungguhnya menjadi tema yang sangat mendasar dalam ajaran Islam kita. Hal itu akan sangat terlihat dengan tujuan dasar agama Islam, khususnya dalam kehidupan publik. Bahwa Islam hadir untuk mewujudkan masyarakat terbaik (khaer Ummah) dan masyarakat pertengahan (ummatan wasatha). Wasatiyah salah satunya bermaka kokok, kuat dan maju (empowered).<\/p>\n<p>Dan untuk tercapainya tujuan itu, Islam memberikan tuntunan yang jelas dan tegas: Aktifisme. Maka activisme adalah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk terwujudnya cita-cita publik Islam untuk membentuk \u201ckhaer ummah\u201d dan \u201cummah wasatha\u201d tadi.<\/p>\n<p>Di dalam Al-Qur\u2019an Aktifisme diekspresikan dengan ragam ekspresi. Minimal ada lima terminologi yang dipakai Al-Qur\u2019an dalam mengekspresikan urgensi aktifisme itu.<\/p>\n<p>Satu, Al-Qur\u2019an memakai kata \u201camal\u201d.<\/p>\n<p>Dalam beberapa ayat Al-Qur\u2019an Allah memerintahkan umat ini untuk \u201cberbuat\u201d (to act). Ayat-ayat seperti \u201caamanu wa \u2018amiluu\u201d menjadi salah satu ekspresi yang sering terulang ketika Allah menggambarkan keimanan itu. Sehingga dengan sendirinya dipahami konsep keimanan dalam Islam itu menjadi sangat identik dengan menyatunya suasan hati (iman) dan aksi (amal).<\/p>\n<p>Allah berfirman: \u201cdan katakan: berbuatkah! Maka sungguh Allah akan melihat amalmu, rasulNya, dan orang-orang yang beriman\u201d.<\/p>\n<p>Dua, Al-Qur\u2019an juga memakai kata \u201c\u0642\u0645\u201d atau bangkitlah.<\/p>\n<p>Mugkin dengan kata ini kita diingatkan peristiwa di saat Rasulullah menerima wahyu pertama IQRA\u2019. Beliau setelah itu mengalami rasa takut dan khawatir. Tentu ini adalah bagian dari aspek kemanusiaan beliau. Tapi tak berselang lama setelah itu Allah justeru menurunkan perintahNya; \u201cQum\u201d (Wahai Muhammad, bangkit!\u201d. Rasulullah SAW diperintah bangun atau bangkit untuk \u201cfa anzdir\u201d (mengingatkan manusia).<\/p>\n<p>Ekspresi ini dalam bahasa Inggrisnya lebih populer dengan \u201cwake up guys\u201d.<\/p>\n<p>Tiga, Al-Qur\u2019an mengekspresikan dengan perintah da\u2019wah, amar ma\u2019ruf dan nahi mungkar.<\/p>\n<p>Kewajiban ini merupakan bentuk aktifisme yang paling mendasar. Dakwah, amar ma\u2019ruf dan nahi mungkar basisnya adalah pergerakan (aktifisme). Oleh karenanya kata da\u2019wah dalam Al-Qur\u2019an pada umumnya memakai kata kerja \u201cud\u2019uu ilaa sabiili Rabbik\u201d, \u201cwa man ahsanu mimman da\u2019aa ilallah\u201d, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Empat, Al-Qur\u2019an juga mengekspresikan aktifisme dengan kata \u201cpergi\u201d atau \u201cberangkat\u201d.<\/p>\n<p>Ketika Allah memerintahkan Musa dan adiknya Harun untuk mendakwahkan akidah Tauhid kepada Fir\u2019aun Allah memakai kata \u201cidzhabaa\u201d (berangkatlah kalian berdua). Tentu konotasi terutama dari kata \u201cdzahaba\u201d atau pergi adalah bergerak (to move). Dan aktifisme itu memang esensinya adalah \u201cmovement\u201d atau pergerakan.<\/p>\n<p>Lima, yang paling populer adalah ketika Al-Qur\u2019an mengekspresikan aktifisme dengan perintah berjuang (jihad).<\/p>\n<p>Aktifisme adalah usaha yang terstruktur (organized) dan sungguh-sungguh dalam upaya mencapai hasil yang baik dan maksimal. Dan sejatinya itulah pula makna jihad (perjuangan). Jihad bukan sekedar berjuang. Tapi berjuang dengan \u201citqan\u201d atau penuh kesungguhan serta dengan profesionalisme yang tinggi untuk mencapai tujuan baik secara maksimal.<\/p>\n<p>Allah berfiman: \u201cWahai orang-orang yang beriman, hendakkah saya tunjukkan padamu sesuatu (dengannya) kamu diselamatkan dari siksaan yang pedih? Berimanlah kepada Allah dan rasulNya dan berjihadlah di jalan Allah dengan harga dan diri kalian. Yang demikian itu lebih baik jika kalian mengetahui\u201d (As-Soff:10).<\/p>\n<p>Inilah lima bentuk ekspresi aktifisme yang terpakai dalam Al-Quran. Saya yakin masih ada beberapa bentuk ekspresi Al-Qur\u2019an dan juga hadits-hadits Rasulullah lainnya dalam hal aktifisme ini. Yang pasti semua ini menunjukkan bahwa aktifisme itu adalah pilar tercapainya cita-cita Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang terbaik (khaer Ummah) dan solid (wasatha).<\/p>\n<p>Tuntunan Al-Qur\u2019an dalam aktifisme<\/p>\n<p>Tentu dalam menjalankan aktifisme Islam pastinya memberikan tuntunannya. Apa saja tuntutan Islam itu? Tunggu pada catatan selanjutnya!<\/p>\n<p>Bellevue hospital, 23 September 2024<\/p>\n<p>*Chaplain at NYCHHC at Bellevue<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Shamsi Ali Al-Kajangi* Hari Ahad, 22 September kemarin, saya kembali mendapat Kehormatan menjadi pembicara di acara Konvensi Tahunan NABIC (North American-Bangladeshi Islamic Community) di<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17335,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,41,38,44],"tags":[],"class_list":["post-17334","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","category-nasional","category-pendidikan","category-sosial"],"views":124,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17334","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=17334"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17334\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17336,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/17334\/revisions\/17336"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/17335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=17334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=17334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=17334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}