{"id":16325,"date":"2024-07-14T00:09:54","date_gmt":"2024-07-14T00:09:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=16325"},"modified":"2024-07-14T00:09:54","modified_gmt":"2024-07-14T00:09:54","slug":"anggota-dpr-puisi-dapat-menjadi-medium-untuk-mencuci-politik-kotor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=16325","title":{"rendered":"Anggota DPR: Puisi dapat menjadi medium untuk mencuci politik kotor"},"content":{"rendered":"<p><b>IndonesiaLineNews-Jakarta-<\/b>Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI)\u00a0Willy Aditya menyatakan bahwa puisi dapat menjadi medium untuk mencuci politik yang kotor.<\/p>\n<p>\u201cPresiden Ke-35 Amerika Serikat John F. Kennedy pernah berkata, kalau politik itu kotor, maka puisi akan mencucinya. Jadi puisi-puisi ini memang harus hadir ketika politik kita hanya diisi oleh intrik dan kekuasaan,\u201d kata Willy saat menghadiri peluncuran buku puisi karya Penyair Frans Ekodhanto Purba berjudul \u201cMonolog Hujan\u201d, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan salah satu puisi Frans yang berjudul \u201cJakarta dalam Nasi Kotak\u201d, yang merepresentasikan bagaimana demokrasi dimaknai bukan sebagai ekspresi terhadap penindasan.<\/p>\n<p>\u201cDalam puisi tersebut, Frans berusaha menyampaikan bahwa demokrasi saat ini dimaknai bukan sebagai ekspresi terhadap penindasan, melainkan karena faktor siapa yang bayar,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Ia juga mengemukakan, sastra dapat menjadi ruang untuk tetap merawat akal sehat dan kewarasan masyarakat di tengah demokrasi di Indonesia yang menuntut keberpihakan.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita mau melawan bungkus (kekuasaan) yang besar, yang paling penting bagaimana akal budi dan akal sehat kita, menjaga rasionalitas dan keberpihakan kita. Frans mengajak kita ke dalam ruang yang sosio-historis, sebagai manusia yang mengalami derita kelas menengah, dan yang dihadirkan Frans tetap merawat akal budi kita,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Frans Ekodhanto Purba mengemukakan bahwa karya terbarunya tersebut tidak berusaha mengajak masyarakat untuk memahaminya sebagai pergerakan melawan penindasan atau politik kotor, tetapi hanya sebagai sebuah ruang kontemplasi untuk saling berdiskusi.<\/p>\n<p>\u201cSilakan pembaca bebas menerjemahkan karya ini, dan silakan berdialog langsung dengan puisinya. Puisi ini adalah keseharian yang saya bawa dalam ruang kontemplasi, sebuah emosi yang bisa saya salurkan dan luapkan, dan tidak hanya emosi, kebahagiaan juga saya luapkan dalam puisi ini,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Frans juga mengajak pembaca peka terhadap lingkungan sekitar lewat buku puisi tersebut.<\/p>\n<p>\u201cMelalui buku puisi ini, saya ingin mengajak pembaca untuk menghidupkan intuisi terhadap keseharian dan melihat kembali apa yang ada di lingkungan tempat tinggal, kerja, sekolah, kuliah, dan seterusnya,\u201d kata dia.<\/p>\n<p>Selain itu, ia juga menegaskan, peluncuran \u201cMonolog Hujan\u201d dapat menjadi momentum untuk meningkatkan semangat membaca dan budaya literasi masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cPaling penting sebagai momentum untuk meningkatkan semangat membaca atau budaya literasi,\u201d ucapnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta-Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI)\u00a0Willy Aditya menyatakan bahwa puisi dapat menjadi medium untuk mencuci politik yang kotor. \u201cPresiden Ke-35 Amerika<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16326,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,45,33],"tags":[],"class_list":["post-16325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-jakarta","category-politik"],"views":330,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=16325"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16327,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/16325\/revisions\/16327"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/16326"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=16325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=16325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=16325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}