{"id":13743,"date":"2024-05-09T10:14:17","date_gmt":"2024-05-09T10:14:17","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=13743"},"modified":"2024-05-09T10:14:17","modified_gmt":"2024-05-09T10:14:17","slug":"naskah-tambo-tuanku-imam-bonjol-terpilih-sebagai-memory-of-the-world","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=13743","title":{"rendered":"Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol terpilih sebagai Memory of The World"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews-Jakarta-<\/b>Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol ditetapkan sebagai salah satu ingatan dunia untuk Asia dan Pasifik atau Memory of the World (MoW) for Asia and the Pasific.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Penyerahan sertifikat dilakukan oleh pemimpin Memory of the World Regional Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) Kwibae Kim kepada Kepala Arsip Nasional (ANRI) Imam Gunarto didampingi oleh Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Mariana Ginting di Ulaan Baatar, Mongolia, Rabu (8\/5)<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol merupakan salah satu catatan autentik yang ditulis oleh pribumi tentang ringkasan sejarah Perang Paderi dan Sumatera Barat pada abad ke-19, &#8221; ujar Pustakawan ahli pertama Perpusnas, Aditia Gunawan, di Jakarta, Kamis.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Naskah yang diusulkan Perpusnas dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Barat (Sumbar) itu terpilih setelah mengikuti proses pemilihan suara dari peserta pertemuan yang mewakili Australia dan Tuvalu, Bangladesh, Tiongkok, Filipina, India, Malaysia, Mongolia, Uzbekistan, dan Vietnam.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Naskah itu ditulis oleh Naali Sutan Caniago, putra Tuanku Imam Bonjol, semasa pengasingannya di Manado. Naskah itu menceritakan peristiwa sejarah di Minangkabau\u00a0pada abad ke-19 dan dianggap sebagai autobiografi Melayu pertama dalam pengertian modern.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Dia menambahkan\u00a0ada beberapa alasan mengapa naskah itu layak ditetapkan menjadi MoW\u00a0for Asia and the Pasific. Pertama, naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol merupakan karya perintis, baik dari segi pengaruh dan genre tulisan. Karya tersebut berupa hipogram dengan aktor yang menceritakannya secara langsung.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Kedua, manuskrip itu mempunyai relevansi sejarah yang signifikan pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dan menjadi bukti sejarah Minangkabau pada abad ke-19. Ketiga, karya itu menyajikan narasi global pergerakan Islam antara Timur Tengah dan Asia Tenggara pada abad ke-18 hingga abad ke-19.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">&#8220;Naskah ini menyoroti peran aktif perempuan, sebuah ciri yang didukung oleh latar belakang budaya Minangkabau dengan kekerabatan matrilinealnya,&#8221; ucapnya.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Selain itu, naskah itu satu-satunya karya tulis tangan Melayu Minangkabau yang mengungkap fakta sejarah. &#8220;Naskah ini mempunyai posisi tak tergantikan sebagai referensi masa depan,\u201d jelasnya.<br \/>\n<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol juga menceritakan refleksi pribadi Tuanku Imam Bonjol tentang pengorbanan dan efek perang yang berkepanjangan selama 34 tahun.<\/p>\n<p>Tuanku Imam Bonjol mengekspresikan penyesalan yang dalam kepada pengikutnya, yang mana timbul pertanyaan dalam dirinya, apakah ada banyak aturan di dalam Al-Qur\u2019an yang telah dilanggar selama perang tersebut.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cLahir pada tahun 1772 di Sumatera Barat, Tuanku Imam Bonjol adalah pemimpin perang Paderi, salah satu perang terlama suku Minangkabau melawan kolonialisme Belanda dari tahun 1803-1837 di Indonesia. Ia ditahan dan diasingkan di beberapa tempat di Indonesia, dan dalam masa pengasingannya, ia masih mengatur pergerakan perlawanan melawan penjajah,\u201d tuturnya.<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<div><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Setelah penetapan naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol oleh MOWCAP, lanjut dia, perlu program tindak lanjut yang menjadikan naskah tersebut mudah diakses, dikenal luas, dan dilestarikan hingga generasi mendatang.<\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Jakarta-Naskah Tambo Tuanku Imam Bonjol ditetapkan sebagai salah satu ingatan dunia untuk Asia dan Pasifik atau Memory of the World (MoW) for Asia and the<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13744,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[118,45],"tags":[],"class_list":["post-13743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-nasional","category-jakarta"],"views":116,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13743"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13743\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13745,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13743\/revisions\/13745"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/13744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}