{"id":11917,"date":"2024-03-11T08:02:55","date_gmt":"2024-03-11T08:02:55","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=11917"},"modified":"2024-03-11T08:02:55","modified_gmt":"2024-03-11T08:02:55","slug":"mengenang-kembali-i-kade-daeng-taokejannang-parangmalengu-dan-i-tolok-daeng-magassing-pimpinan-perlawanan-pasukan-patampuloa-terhadap-penjajah-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=11917","title":{"rendered":"Mengenang Kembali I Kade Daeng Taoke(Jannang Parangmalengu) dan I Tolok Daeng Magassing Pimpinan Perlawanan Pasukan Patampuloa Terhadap Penjajah Belanda."},"content":{"rendered":"<p><strong>IndonesiaLineNews<\/strong>-Bontocinde, Gowa-minggu 10 januari 2024<\/p>\n<p>Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh awak media(Penulis)baik dari almarhum saong daeng Kade, Baso aco bin saong daeng Ngago, almarhum maccada daeng Ngali,almarhumah Hj Rugaya daeng Baji,almarhum Lada daeng tula, almarhum abd hakim daeng sanre, almarhum daeng gassing,Haluki maccada daeng Luki(jannang parangmalengu),parawansyah daeng Ruppa(pemerhati sejarah dan budaya),. mereka semua adalah cicit dari I Kade daeng Taoke dan I Tolok daeng Magassing&#8230;<\/p>\n<p>Mereka berdua merupakan Kakek moyang dari warga yang berdiam di kampung parangmalengu, pattingngalloang, bontocinde, kunjungmange, labbakkang, dan sebagian warga yang berdiam di moncobalang dan balla pangka termasuk kampung parapa dan sekitarnya&#8230;Sumber informasi cerita turun temurun(TUTUR)&#8230;<br \/>\nSelanjutnya I Kade daeng Taoke pernah dalam suatu kesempatan menolak perintah raja Gowa ke 30, I Mappatunru\/<br \/>\nManginyarrang karaeng Lembang parang Tu menanga Ri Katangka<br \/>\n(1816-1865) untuk &#8220;Akkusiang&#8221;,<br \/>\natau kerja bakti di kerajaan Gowa.<\/p>\n<p>Namun I Kade daeng Taoke menolak perintah Raja Gowa.akhirnya raja Gowa memanggil I Kade daeng Taoke menghadap ke istana raja Gowa dan sebagai hukuman dari pembangkangannya maka, I Kade daeng Taoke langsung di hukum mati, adapun raja Gowa menyuruh kepada Buleng Bulengna Mangasa untuk mengumpulkan semua senjata tajam<br \/>\nyang ada di kerajaan Gowa,.setelah semua di rasa cukup maka raja Gowa memerintahkan kepada eksekutor untuk mengeksekusinya.<\/p>\n<p>Kemudian I Kade daeng Taoke memohon kepada raja Gowa bahwa dirinya tidak bersedia di eksekusi kalau bukan raja Gowa sendiri ,maka oleh raja Gowa I Kade daeng Taoke dibaringkan di atas paha sombangta(Raja Gowa), dan langsung menyembelihnya tetapi atas kuasa dan pertolongan Allah SWT setiap senjata tajam itu di pegang oleh I Kade daeng Taoke maka langsung tumpul,akhirnya<br \/>\nraja Gowa berkesimpulan bahwa Ambangunmako nai&#8217; daeng Taoke,silahkan pergi ke parangmalengu jadi pemerintah, Ikaumi antu nikana tu Maradeka ri Gowa,,,&#8221;Teaiko karaeng Teai tongko Ata. &#8220;(beberapa sumber dan tutur yang masih terjaga sampai hari ini).<\/p>\n<p>I Tolok daeng Magassing adalah salah satu putra dari I Kade daeng Taoke yang sangat terkenal, beliau di kenal sebagai orang yang taat beribadah, rajin membantu orang tuanya, dia juga di kenal sebagai orang yang pandai silat mewarisi sifat dan kelebihan dari orang tuanya,dalam buku &#8221; Bandit sosial, jejak perlawanan I Tolok daeng Magassing &#8220;,<br \/>\nyang di tulis oleh M Nafsar Palallo.<\/p>\n<p>Gerakan I Tolok daeng Magassing berlangsung antara tahun 1914-1917,<br \/>\nKisahnya juga di catat oleh Abd Razak daeng,Muhammad Arfa,dan Rahman Arge. I Tolok daeng Magassing memimpin kelompok untuk menjarah, merampok dan menyerang Belanda.Gerakan I Tolok daeng Magassing muncul 9 tahun pasca ekspedisi militer Belanda pada tahun 1905,.ekspedisi itu kemudian menyebabkan peralihan kekuasaan kerajaan kerajaan lokal ke tangan Hindia Belanda.<\/p>\n<p>Seperti di kisahkan Massiara daeng Rapi<br \/>\ndalam buku Menyingkap tabir sejarah dan budaya sulawesi selatan (1985).<br \/>\nNasaruddin koro dalam buku Ayam jantan tanah daeng, siri&#8217; dan pesse dari konflik lokal ke peratungan lintas batas(2006). puncak pergolakan sosial terjadi pada tahun 1916,pos pos pajak pemerintah dan rumah rumah pejabat pemerintah Belanda di serang. Gerakan I Tolok daeng Magassing mengakibat<br \/>\nkan huru hara sosial.I Tolok daeng Magassing di cak pemberontak oleh Belanda tetapi oleh para bangsawan gowa, bajeng, polongbangkeng, jeneponto dan makassar serta rakyat miskin, I Tolok daeng Magassing di anggap penyelamat dan pahlawan.<\/p>\n<p>Akhir kisah, I Tolok daeng Magassing gugur dalam keadaan tragis di Limbung Gowa. Mayatnya di pertontonkan di tanah kelahirannya. Belanda berhasil menangkap I Tolok daeng Magassing dan I Rajamang di kampung kalampak Polongbangkeng. Hal ini di sebabkan adanya pengkhianatan dari bekas anak buahnya yang bernama &#8220;Camanggo&#8221;,<br \/>\nyang menunjukkan keberadaan I Tolok daeng Magassing.(Kejahatan yang terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang tidak terstruktur &#8211; Ali bin Abi Thalib RA)<br \/>\nDan jangan sekali kali kamu mengira bahwa orang orang yang gugur dijalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki.<br \/>\nMereka bergembira dengan karunia yang di berikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.<br \/>\nMereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang orang yang beriman.<br \/>\nQS Ali&#8217; Imran(Keluarga Imran) 3:169-171<br \/>\nApabila umat manusia melakukan pendekatan diri kepada Tuhan pencipta mereka dengan bermacam macam kebaikan, maka mendekatlah engkau dengan akalmu, niscaya engkau merasakan nikmat yang lebih banyak,yaitu dekat dengan manusia di dunia dan dekat kepada Allah di Akhirat<br \/>\nAl Hadits<br \/>\nJangan sekali kali pernah melupakan sejarah (Jasmerah &#8211; Bung Karno)<\/p>\n<p>@Ahmadtenreng<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Bontocinde, Gowa-minggu 10 januari 2024 Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh awak media(Penulis)baik dari almarhum saong daeng Kade, Baso aco bin saong daeng Ngago, almarhum<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11918,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[46,55,40],"tags":[],"class_list":["post-11917","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-daerah","category-makassar","category-seni-budaya"],"views":901,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11917"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11917\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11919,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11917\/revisions\/11919"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}