{"id":10083,"date":"2023-11-07T13:50:07","date_gmt":"2023-11-07T13:50:07","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=10083"},"modified":"2023-11-07T13:50:07","modified_gmt":"2023-11-07T13:50:07","slug":"pka-8-jadi-wadah-edukasi-siswa-di-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/?p=10083","title":{"rendered":"PKA-8 Jadi Wadah Edukasi Siswa di Aceh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\"><b>IndonesiaLineNews<\/b>-Banda Aceh \u2013 Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh menjadi wadah edukasi kebudayaan bagi para siswa\/siswi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Selain masyarakat umum, pagelaran budaya yang dilaksanakan mulai 4-12 November 2023 ini juga ramai dikunjungi siswa-siswa yang berasal dari berbagai sekolah di Banda Aceh dan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Di lokasi PKA-8 mereka mengunjungi anjungan dari 23 kabupaten\/kota se-Aceh. Melihat berbagai peninggalan sejarah dan kebudayaan yang ada di Tanah Rencong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Yana, seorang guru SMP Methodis Banda Aceh, mengungkapkan event ini kesempatan bagi siswanya untuk menyaksikan dan mempelajari budaya serta sejarah yang ada di Aceh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cSelama ini mereka hanya tinggal di Banda Aceh namun belum mengetahui budaya di daerah-daerah lain,\u201d kata Yana, Selasa, 7 November 2023.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ia menyebutkan yang dibawa hari ini hanya 50 siswa, namun pihaknya telah menjadwalkan kunjungan lanjutan kepada siswa lain yang belum sempat berhadir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Grace, salah seorang siswi sekolah SMP Methodis, mengaku sangat terpukau dengan budaya Aceh. Apalagi ini merupakan kunjungan pertamanya ke acara pekan kebudayaan Aceh. \u201cRupanya sangat menarik karena kita dapat melihat budaya-budaya dari daerah lain,\u201d kata Grace.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Menurutnya, budaya dan sejarah Aceh tampak berbeda dari daerah lain. Meskipun telah lama menetap di Bumi Serambi Mekkah, namun dirinya banyak menyaksikan hal baru di PKA-8 ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Paling menarik, kata dia, kayak raksasa yang ada di Anjungan Aceh Selatan. \u201cSebelumnya belum pernah liat katak sebesar itu,\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ia juga mengatakan baru menyadari ternyata rempah-rempah Aceh bukan hanya yang ditemui dalam makanan saja, ternyata masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Selain itu, Muammal Redha Falevi, siswa Pesantren Modern Al Manar, Kabupaten Aceh Besar, juga mengaku banyak melihat dan mendapatkan pengetahuan tentang ragam adat, budaya maupun sejarah di acara PKA-8.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Ini merupakan pengalaman pertama Redha menyaksikan PKA karena dibawa oleh guru sekolahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cSaya asal dari Nagan, jadi ini pertama kali ke PKA,\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Datang ke PKA-8, kata Redha, ia bisa tahu bentuk rumah adat asal teman-teman khususnya yang ada di pesantrennya. \u201cKalau diizinkan dari pesantren kami mau kembali lagi kesini, karena ini tidak cukup waktu\u00a0untuk masuk ke semua anjungan,\u201d ungkapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Redha juga mengakui kunjungannya ke PKA dapat menambah wawasan tentang Aceh. Bahkan ia dapat mengetahui ragam kuliner Aceh yang\u00a0sebelumnya belum pernah dicicipi. \u201cKulinernya juga enak-enak tadi, nama makanannya juga lucu-lucu,\u201d ucapnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Semnetara itu, Nadia Hanisa Amanda, siswi dari Madrasah Aliyah Swasta Darul Ulum, Banda Aceh, mengaku sangat tertarik dengan tari-tari yang ditampilkan dari setiap anjungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Sebagai wanita yang menyukai tari, Nadia menuturkan sangat terkagum-kagum akan budaya yang ada di Aceh. Tak hanya itu anjungan rumah adat dari setiap daerah\u00a0menjadi informasi dan pengetahuan baru kepada mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u201cRempah-rempah juga menjadi hal baru bagi kami. Terus rumah adatnya juga bagus-bagus, sebelumnya belum pernah liat rumah adat daerah lain,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">Tak kalah menarik, kata dia, di PKA-8 juga ada kodok raksasa yang melompak hanya empat jam sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-family: verdana; font-size: large;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>IndonesiaLineNews-Banda Aceh \u2013 Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh menjadi wadah edukasi kebudayaan bagi para siswa\/siswi. Selain masyarakat umum, pagelaran<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10084,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[71,41,48,38,40],"tags":[],"class_list":["post-10083","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","category-nasional","category-pemerintahan","category-pendidikan","category-seni-budaya"],"views":177,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10083"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10085,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10083\/revisions\/10085"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/10084"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indonesialinenews.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}